SEMARANG – Dugderan datang lagi. Kegiatan tersebut bertempat di kawasan sekitar Masjid Agung Semarang, yakni di sekitar alun-alun, Jalan Ki Narto Sabdo, dan sebagian Jalan Pemuda.
Acara akan berlangsung hingga 16 Februari 2026. Ratusan UMKM memeriahkan agenda tahunan yang diadakan untuk menyambut datangnya Ramadan. Mainan tradisional seperti kapal otok-otok, celengan, gerabah, dan lainnya terlihat didagangkan banyak pedagang.
“Ini adalah tradisi yang dilakukan sejak zaman Belanda masih menjajah Indonesia. Tahun ini kita buat lebih ramai, dengan tema, teknik, kita pakai baju-baju jadul. Mungkin tahun depan temanya apa lagi, yang menarik,” ujar Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti dalam keterangannya dikutip dari situs resmi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Menurut Agustina, dugderan telah menjadi aktivitas ekonomi kerakyatan.
“Alun-alun kita pakai maksimal sebagai ruang publik. Dugderan harus menjadi panggung rakyat. Semua yang ingin jualan silakan, yang penting tertib dan pelaku usaha kecil jadi prioritas utama,” imbuhnya.
Selain menjadi ajang hiburan dan penggerak ekonomi rakyat, pihaknya juga tengah memperjuangkan Festival Dugderan agar memperoleh pengakuan sebagai Warisan Budaya Indonesia, guna menjaga nilai sejarah dan identitas kota.
“Sekarang kita sedang berjuang, Pasar Dugderan ini menjadi bagian dari Warisan Budaya Indonesia. Doakan ya, kalau ini menjadi warisan budaya, siapa pun wali kotanya itu wajib mengadakan pasar Dugderan,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Aniceto Magno Da Silva menyampaikan, saat ini terdapat 245 pedagang yang berjualan di Pasar Dugderan. Pihaknya sengaja membatasi jumlah tersebut, demi menjaga ketertiban dan kenyamanan pengunjung.
“Pedagangnya kita batasi, tapi bisa sampai 500 pedagang. Semua jenis UMKM masuk, mulai kuliner, barang pecah belah, hingga aneka produk lainnya,” ungkap Aniceto.
Setiap tahun, lanjutnya, pihaknya berupaya meningkatkan daya tarik pengunjung, baik dari sisi wahana maupun variasi produk yang ditawarkan. Diperkirakan, perputaran ekonomi Pasar Dugderan 2026 bisa menyentuh angka Rp500 juta-Rp600 juta.
“Harapannya, tradisi tahunan ini tidak hanya menjadi agenda budaya, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian warga,” tandasnya.(PJ1)








