BLORA – Seniman dan budayawan di Blora gagas Hari Sastra Blora. Hari tersebut diusulkan akan diperingati pada tanggal lahir sastrawan Pramoedya Ananta Toer, yakni 6 Februari.
Gagasan itu muncul pada pertemuan yang dihadiri Ketua Dewan Kesenian Blora (DKB), Dalhar Muhammadun (Lek Madun), bersama pembina seni rupa yang juga pelukis, Sulistyo Pungky, dan pengamat budaya Blora di Cafe Slapa Jazz.
Pertemuan itu sendiri merupakan tindak lanjut dari peringatan hari lahir Pramoedya Ananta Toer pada 6 Februari 2026 lalu di Blora Creative Space.
“Sekalipun deklarasi ini belum bergema luas, kami berkomitmen untuk menjadikan 6 Februari sebagai agenda rutin tahunan. Ini adalah cita-cita mulia yang diharapkan mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Blora,” ujar salah seorang perwakilan seniman dan budayawan.
Dalam diskusi intens sambil menikmati kopi dan wedang jahe, terungkap data menggembirakan bahwa saat ini terdapat sedikitnya 30 penulis asal Blora yang telah menerbitkan buku.
Angka ini dinilai sebagai bukti otentik bahwa Blora memiliki potensi besar dalam dunia kepenulisan yang belum tergarap maksimal.
Selain membahas warisan sastra Pramoedya, para tokoh ini juga membedah kebudayaan Samin, sejarah Noyo Gimbal, hingga pentingnya dokumentasi tertulis mengenai kearifan lokal Blora yang masih banyak berserakan.
Sebagai langkah konkret ke depan, para budayawan mendorong Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Blora untuk menyediakan ruang khusus yang menyimpan seluruh karya tulis putra daerah.
Hal ini dinilai krusial agar masyarakat maupun peneliti memiliki referensi utama saat ingin mempelajari Blora secara mendalam.(PJ4)
Foto : blorakab.go.id
Sumber: blorakab.go.id








