
SEMARANG – Puluhan hadirin memenuhi sebuah joglo di Taman Budaya Raden, Jumat, 6 Februari, 2026, malam. Mereka menghadiri peringatan Hari Lahir Pramoedya Ananta Toer. Kegiatan tersebut digelar Dewan Kesenian Semarang dalam program Untuk Perawi.
Beberapa penampil memeriahkan panggung saat itu. Acara dibuka dengan pembacaan cerita pendek “Ikan-Ikan yang Terdampar” oleh Satoeboemi. Cerpen tersebut ada di buku Pram yang berjudul Cerita dari Jakarta.
Tiga aktor Satoeboemi yakni Kelana, Bintang, dan Nining membawakan kisah tersebut dengan iringan gitar dan biola yang dimainkan Ari serta Arifin.
“Biasanya kami tampil membawakan lagu serta puisi. Kali ini kami tampil beda, membaca cerpen dengan dramatisasi,” ujar Kelana.
Dia juga mengungkapkan bila pertunjukan itu akan ditampilkan di luar Kota Semarang juga.
“Ini adalah latihan perdana kami. Selanjutnya kami akan mempersiapkan diri untuk pementasan di luar Kota Semarang,” tambahnya.
Hadir pula pada malam tersebut beberapa anggota Forum Lingkar Pena Kota Semarang. Pemimpin komunitas literasi tersebut, Umbara Al Mafaaza membacakan sebuah puisi yang ditujukan untuk Pram.
Kemudian tampil Dapur Pertunjukan Meramu. Nila, Titis, dan Adit serta Deki membaca salah satu bab dari buku Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer.
“Pram pada buku ini menunjukkan penindasan perempuan masa penjajahan Jepang. Sungguh menyakitkan,” ujar Titis.
Setelah itu, Segi Film menayangkan teaser film dokumenter tentang Pram yang disutradarai Tries Supardi. Tries mengungkapkan, pihaknya kurang lebih dua tahun menyiapkan film itu.
“Tunggu saja tayang perdananya,” ujar Tries seusai penayangan teaser yang menunjukkan seorang korban peristiwa 1965 di Kota Semarang.
Pram, seperti yang diketahui, juga merupakan korban 1965. Dia pernah dipenjara di Pulau Buru karenanya.
Dduo musisi Beruga juga turut memnghangatkan acara. Mereka membawakan beberapa lagu dengan iringan gitar akustik yang mereka pegang.
Tampil pula Dera yang membacakan sepucuk surat Pram untuk Goenawan Moehammad dan Bara Puan yang membacakan penggalan cerita karya Pram.
Malam itu, para hadirin memperingati hari lahir Pram dengan mengingat certa-ceritanya. Acara tersebut juga dimaksudkan untuk menanamkan kemanusiaan, apa yang juga dikabarkan oleh Pram.(*)








